Selasa, 24 Juli 2012

Tari Campak

Tari Campak merupakan tari pergaulan muda-mudi  yang menggambarkan keceriaan bujang dan Miak di Kepulauan Bangka Belitung. Tarian ini biasanya dibawakan setelah panen padi atau sepulang dari uma/ (kebun). 

 
Dalam Tarian ini juga menampilkan unsur seni pantun  bersambut  yang  biasanya didendangkan oleh sepasang penari yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, dengan irama yang khas. Mereka menari diiringi tabuhan gendang, piul/Biola dan gong . Para penari menggunakan selembar saputangan yang dikibas-kibaskan mengiringi lenggok gemulai sang penari. 


Pada saat  tarian ini berlangsung biasanya penonton bebas memberikan saweran kepada “nduk campak” sebutan bagi penari perempuan. Sedangkan penari laki-laki disebut “Penandak”. Setelah memberikan sawerannya  para penonton juga bebas ikut menari bersama para penari.


Dalam perkembangannya, Saat ini  Tari Campak juga sering digunakan sebagai hiburan dalam berbagai kegiatan seperti penyambutan tamu atau pada pesta pernikahan di Kepulauan Bangka Belitung. 


 
Tari Campak Bangka Belitung juga memiliki bermacam ragam jenis diantaranya Campak Darat dan Campak Laut, kedua itu memiliki karakteristik dan ke khasannya masing masing.
Tari Campak berkembang pada masa pendudukan bangsa Portugis di Bangka Belitung......


"Cintai Negerimu, Kenali Budayamu"

By.Wanda Sona Alhamd

Senin, 23 Juli 2012

Masjid Jami' Dan Kelenteng Kung Fuk Min(Muntok), Simbol Kerukunan umat beragama di Negeri Serumpun Sebalai



Kedua bangunan bersejarah ini terletak di Kampung Tanjung, Kecamatan Muntok, tidak jauh dari pelabuhan lama.Masjid Jami' merupakan Masjid pertama di Muntok, didirikan pada periode Kolonial/ 1879 M/1300H oleh Batin Muntok yang dibantu oleh masyarakat setempat, termasuk orang-orang Cina Kaya yang sebagian telah masuk Islam dan Mayor Chung A Thiam. Bangunan bergaya kolonial ini memiliki atap 2 tingkat yang menyerupai atap tumpang seperti pada masjid-masjid kuno di Jawa.  


 Mesjid Jami'Muntok yang hanya di pisahkan oleh jalan setapak dengan Kelenteng Kung Fuk Min



Masjid ini berdiri diatas lahan wakaf dari Tumenggung Arifin dan H. Muhammad Nur seluas 7.500 M2. lokasinya persis bersebelahan dengan Kelenteng Kung Fuk Min. Hingga kini kedua bangunan bersejarah ini dalam keadaan terawat dan masih menjalakan fungsinya masing-masing yakni sebagai tempat ibadah umat Islam dan Umat Tionghoa.


photo14Sebelum Masjid dibangun, Kelenteng telah lebih dulu dibangun oleh orang-orang Cina dari suku Kuantang dan Fu kien yan telah lama menetap di Muntok pada 1820. Kelenteng ini merupakan kelenteng Cina pertama di mentok dari Mayor A Tiom. Kompleks Kelenteng terdiri dari 3 buah bangunan dengan bangunan utama berada di tengah. Bangunan utama memiliki atap berbentuk pelana. Komponen lain dari bangunan adalah gapura utama, pagar keliling, halaman, pagoda dan arca Singa. Kelenteng ini pernah direnovasi pada Februari 1977.


"cintai negerimu kenali budayamu"
By.Wanda Sona Alhamd

Minggu, 08 Juli 2012

Nahwand Sona Alhamd: Penjaga Musik Tari Tradisi Bangka

Lahir: Bangka, 21 November 1982
Istri: Juwita Handayani,SE
Pencapaian:
- Penata musik terbaik Festival           
 Serumpun Sebalai, 2004, 2005, 2006
- Penata musik  tari Pencak Kedidi, dipentaskan di Belanda, 2011

Deretan tanda penghargaan dipajang di ruang tamu rumahnya di pinggiran Sungailiat, Bangka. "Pentas luar negeri saya terakhir di Pasar Malam Indonesia 2011 di Belanda. Saya membuat musik untuk tari tradisi Bangka yang dipentaskan," ujar Nahwand Sona Alhamd.

OLEH KRIS RAZIANTO MADA
http://cetak.kompas.com/read/2012/06/14/03443060/penjaga.musik.tari.tradisi.bangka
     Untuk pentas di Belanda, Wanda, panggilannya, membuat karya baru sebab tari Pencak Kedidi yang dipentaskan itu nyaris punah. Kala itu hanya tersisa satu penari dan tidak ada pemusiknya sama sekali.
     "Saya meramu ulang musiknya setelah memperhatikan gerak tari dan mendengarkan penjelasan penari aslinya,"ujar Wanda, penggiat Sanggar Kite di Sungailiat.
     Karyanya juga melanglang sampai Malaysia dalam Pentas Gendang Nusantara 2001. Dalam beberapa kali Festival Serumpun Sebalai di Kepulauan Bangka Belitung (Babel), ia mendapat penghargaan sebagai penata musik tari terbaik.
     Wanda juga pernah unjuk kebolehan di berbagai provinsi di luar Babel. Dari berbagai ajang itu, ia menyabet beberapa penghargaan. Semua itu. katanya, karena suka seni tradisi saja.
     Wanda juga menciptakan lagu-lagu berlirik bahasa Bangka. Dia bergiat di Sanggar Kite yang diasuh ayahnya, Baidjuri Tarza, pemusik dan pencipta lagu Bangka dan Lawang Budaya. Sedangkan Sanggar Lawang Budaya diasuhnya bersama sang istri, Juwita Handayani. 
     Di Lawang Budaya, ia mengenalkan musik dan tari tradisi kepada sekitar 100 anak asuhnya. Mereka terdiri dari murid SD dan mahasiswa. "Jangan tanya soal bayaran. Anak-anak mau rutin berlatih saja sudah membuat saya bersyukur. Saya hanya berharap seni tradisi Bangka semakin banyak digemari," ujarnya.
     Wanda mengaku tidak enak jika ditanya soal bayaran. Sanggar itu mendapat bantuan Rp 200.000 per bulan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bangka. Tentu dana sebesar itu tidak cukup untuk sekadar biaya operasional sanggar. Apalagi, jika disebut sebagai bayaran atas jerih payah Wanda dan istrinya.
     Untuk operasional, terkadang orangtua asuhnya berganti iuran. Kadang Wanda mencarikan kesempatan pentas di acara pernikahan. "Masih ada orang Bangka ingin mendengar musik tradisi di acara pernikahan. Memang belum tentu ada permintaan pentas setiap bulan. Tetapi, itu salah satu peluang pasar seni tradisi," ujarnya.
Sejak SD
     Sejak kecil, Wanda berkeinginan mendalami seni tradisi. Sejak duduk di sekolah dasar, ia sudah mengoleksi penghargaan berbagai bidang seni dari kompetisi menyanyi, deklamasi, dan berpuisi. "Waktu SMP, saya semakin intensif menekuni musik tradisi. Keluarga saya kebetulan bergiat di seni tradisi," ujarnya.
     Ayahnya, Baidjuri, mengajari Wanda memainkan aneka alat musik perkusi gendang ibu dan gendang anak, rebana, serta jimbe. Wanda juga dilatih memainkan dambus, sejenis gitar tradisional bangka. Latihan itu menjadi bekalnya di kemudian hari sebagai pemusik dan pencipta lagu daerah Bangka.
    Dengan bekal itu pula, ia terpilih menjadi anggota rombongan duta budaya Sumatera Selatan, provinsi induk Bangka, hingga tahun 2000. Ia antara lain menjadi pemain musik tradisi untuk rombongan yang pentas di Bali. "Waktu itu saya masih SMA. Namun, komunitas seni di Palembang sudah menerima saya sebagai bagian dari mereka," ujarnya.
     Komunitas seni yang didukung pemerintah setempat sebenarnya menyediakan fasilitas cukup bagi Wanda untuk berkarya di Palembang. Setidaknya, ia mendapat biaya sekolah dari hasil berbagai pentas di Palembang. Ia kerap dilibatkan dalam berbagai tari dan musik tradisi sebagai wakil Sumsel. "Di Palembang memang ada kesempatan saya menggali lebih dalam potensi sebagai pemusik tradisi," ujarnya.
     Meskipun demikian, ia akhirnya memilih kembali ke Bangka setelah terbentuk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dari ayahnya, Wanda tahu ada banyak tari tradisional tak dipentaskan lagi karena ketiadaan pemusik untuk mengiringinya. Ia juga mendengar tidak banyak orang mau menciptakan lagu dalam bahasa Bangka.
     "Bagi saya, itu peluang besar berkarya. Saya sudah dimodali keterampilan bermusik oleh orangtua," ujarnya.
     Sebagai pelaku seni, ia ditawari menjadi tenaga honorer di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Babel. "Saya terima itu karena berpikir sebagai pegawai dikbud akan bertugas mengurus seni saja," ujarnya.
     Sayang, perkiraan  itu sama sekali berbeda dengan kenyataan. Sebagai pegawai honorer, ia malah disibukkan dengan tugas yang sama sekali tidak berkaitan dengan seni.
     "Saya malah diminta mengantar surat atau menjemput keluarga atasan. Hampir tidak ada waktu berkreasi," ujarnya.
     Suasana itu berseberangan dengan fakta di Palembang dan harapannya saat kembali ke Bangka. Di Palembang, ia benar-benar fokus berkarya. Biaya sekolah dan biaya hidup didapat dari berbagai aktivitas seni. Sebagai anggota komunitas seni di Palembang, tugasnya memang benar-benar berkarya saja. "Saya tidak mendapatkan itu setelah pindah ke Bangka," ujarnya.
     Karena itu, ia memutuskan berhenti menjadi pegawai honorer. "Untuk mendapat penghasilan, saya menjadi pelatih tari di berbagai sekolah. Saya ingat hanya dibayar Rp 75.000 per bulan sebagai pembimbing ekstrakurikuler seni di salah satu sekolah di Sungailiat," ujarnya.
Kebebasan
     Situasi tersebut diakui berat bagi Wanda yang kala itu baru memulai rumah tangga. Namun, ia lebih memilih bertahan pada pilihan itu demi bisa terus berkreasi musik tradisi Bangka. "Secara materi memang tidak banyak bisa didapat dari pilihan ini. Tetapi, ada kepuasan batin meneruskan apa yang dulu dilakukan keluarga saya," ujarnya.
     Pilihan memprioritaskan kebebasan berkreasi dibandingkan dengan motif ekonomi berkali-kali ditempuhnya. Meski punya sanggar seni dan kenal banyak orang penting, pemerintahan maupun swasta, ia tidak mau memanfaatkannya untuk kepentingan di luar seni.
     Untuk kepentingan seni sekalipun, ia akan menolak tawaran yang dirasa menghambat kebebasan berkreasi. "Saya tidak sudi mengemis demi mendapat imbalan dengan menggadaikan kebebasan dan kualitas kreasi," ujarnya.
     Meskipun demikian, ia tetap berharap pemerintah mau lebih menghargai para pelaku seni tradisi. Mereka adalah orang-orang yang menjaga identitas daerah.
     "Kalau mau beri penghargaan, jangan berupa hadiah uang tunai yang akan habis dalam sekejap. Lebih baik beri beasiswa agar seniman bisa memperdalam ilmunya. Bisa untuk kuliah, kursus singkat, atau belajar dari daerah lain," katanya.

Sumber :
- Kompas Cetak
- http://cetak.kompas.com/read/2012/06/14/03443060/penjaga.musik.tari.tradisi.bangka
Editor :
Jodhi Yudono

Kesenian Gambus, Yang Tergerus Zaman


Minggu , 08 Juli 2012 10:46:07

Oleh : Sugandi

"Selat Malaka airnya pun tenang… Selat Malaka airnya pun tenang

Hai tempatnya berlabuh, tempat berlabuh perahu Bugis

Orang yang jauh janganlah dikenang…Hai orang jauh janganlah  dikenang

Kalau dikenang menangis, tentu menangis”

 

KBRN, Jakarta: Sepenggal lirik pantun yang kerap dilantunkan dalam kesenian orkes Dambus <dalam bahasa Bangka> atau Gambus. Pengamat musik  Gambus Wanda Sona Alhamd menjelaskan orkes Gambus merupakan kesenian rakyat yang berasal dari negara Timur Tengah.  Kesenian  tersebut disebar luaskan oleh saudagar pedagang asal Timur Tengah.

 

Hingga kini, kesenian tersebut masih dapat dinikmati oleh masyarakat. “Kesenian ini ada orang menggelar hajatan, dan sebagian  masih suka dengan musik Gambus khususnya di perkampungan,” kata Wanda Sona Alhamd, dalam dialog bersama Pro 3 RRI, Minggu (8/7).

 

Gambus merupakan kesenian rakyat dengan menggunakan alat musik petik seperti mandolin. Gambus dimainkan sambil diiringi gendang.  Lagu-lagu yang dilantunkan dengan lirik keagamaan dan diselingi dengan pantun yang berisikan kerinduan.

 

Orkes gambus kini tersebar luas seperti di Jambi, Bangka Belitung, Jakarta. Orkes Gambus dapat ditemui pada pesta sunatan dan perkawinan.  "Kalau dari segi  permainan, juga memiliki khas sendiri seperti pantun-pantun dinyanyikan dengan spontan . Liriknya berisikan kerinduan yang diungkapkan melaui pantun,” jelasnya.

 

Diakui, seiring dengan perkembangan zaman, musik  Gambus sudah mulai tergerus, khususnya di perkotaan. Namun dia bersyukur masih ada anak-anak muda yang mau menekuni musik Gambus.

 

“Seiring perkembangan zaman khususnya sudah jarang sekali memilih kesenian daerah untuk tampil namun saya bersyukur masih ada mau melestarikan gambus,”.

 

Ketika disinggung mengenai perhatian pemerintah khususnya pemerintah daerah, dia enggan berkomentar. “Malas saya kalau membahas ini (perhatian pemerintah-red).  Selama ini  pemda belum memberikan perhatian,” tegasnya. (Sgd/AKS)

 

 

 

 

 

(Editor : Agus K Supono)

http://rri.co.id/index.php/detailberita/detail/23419#.T_lkVpHkbCN



Selasa, 22 Mei 2012

Tari Sambut Sepintu Sedulang, cerminan adat istiadat masyarakat kabupaten Bangka propinsi kepulauan bangka belitung

SALAM BUDAYA


       Anda tentu pernah mendengar sekaligus juga menyaksikan tari dan music yang di gelar oleh masyarakat di suatu daerah pada saat menyambut datangnya tamu-tamu  yang di anggap istimewa oleh masyarakat daerah setempat…..
       Ya….kita mengenal Tari Gending Sriwijaya yang berasal dari sumatera selatan, Tari pasambahan dari sumatera barat dan tari persembahan dari propinsi Riau….
Kesemuanya itu memiliki cara dan karakteristik tersendiri berdasarkan adat istiadat yang berlaku di daerah masing-masing….Demikian halnya di Bangka Belitung khususnya di daerah kabupaten Bangka…..
Di kabupaten Bangka, Tari ini di kenal masyarakatnya dengan nama “Tari Sambut Sepintu Sedulang”
Jika di lihat dari idiom-idiom dan symbol-symbol yang tercermin, baik melalui gerakan Tarinya maupun alunan dan syair musiknya, Tari Sambut Sepintu Sedulang tidak hanya telah mewakili negeri sepintu sedulang namun juga dapat di jadikan sebagai ”cerminan adat istiadat masyarakat propinsi kepulauan bangkabelitung”……………

Semula Tari Sambut Sepintu Sedulang di ciptakan oleh seniman kelahiran pangkalpinang yang kini berusia 68 tahun yakni Mukhtar Accros untuk kepentingan gelar acara pernikahan Putri Bupati Bangka yang kala itu di jabat oleh djarap  , namun seiring berjalannya waktu, inspirasi Muchtar Acros bersama seniman lainnya,diantaranya Parlind Hutagalung, Murmahudi serta budayawan Samsi dan Almarhumah Ermanila Hamid, kala itu pun berkembang……

Di dasari oleh pemikiran bahwa masyarakat Bangka adalah masyarakat yang berbudaya, tari sambut sepintu sedulang yang mencerminkan adat istiadat masyarakat Bangka yang ramah tamah, sopan santun,  gembira dan bahagia, tulus dan terbuka terhadap siapa saja, khususnya  tamu  istimewa yang datang berkunjung ke negeri sepintu sedulang semakin di paten kan dan di perkenalkan kepada masyarakat luas termasuk sering kali di tampilkan pada saat menyambut tetamu agung Mulai dari Presiden,menteri dan tamu tamu yang di anggap istimewa lainnya baik yang berasal dari luar maupun dari dalam daerah.

Tidak hanya itu. Tari Sambut sepintu sedulang juga di perkenalkan hingga ke negeri sriwijaya Palembang sumatera selatan, Tepat  pada tanggal 10 juli  tahun 1985, saat sumatera selatan masih berkuasa atas pulau Timah ini, Tari Sambut sepintu sedulang di persiapkan untuk mengikuti even seni ke tingkat propinsi sumatera selatan di Palembang yang di gelar pada tanggal 20 juli 1985…..

Dan sejak itulah , masyarakat baik di dalam maupun di luar daerah bangka semakin mengenal tari sambut sepintu sedulang sebagai tari tradisi penyambutan tetamu agung yang ada di kabupaten Bangka, bahkan saat ini hampir seluruh komunitas seni yang ada khususnya di pulau Bangka mempelajari dan menampilkan tari sambut sepintu sedulang ketika mereka di percayakan menyambut tamu agung yang datang melalui upacara penyambutan di bandara depati amir pangkalpinang maupun di tempat-tempat lainnya….

      Tari sambut sepintu sedulang, setiap ragam gerak dan syair musiknya masing-masing memiliki arti tersendiri, seperti yang di jelaskan Sang Koreografer Muchtar Accros…..di awali dari gerak silat yang di lakukan oleh 2 hingga 4 orang dengan bersenjatakan tombak atau menggunakan parang merupakan bentuk kesigapan dan tanggung jawab masyarakat Bangka yang akan selalu melindungi, memberi rasa aman kepada siapa saja yang datang berkunjung ke pulau Bangka,sedangkan dalam gerak tarinya yang gemulai namun tegas mencerminkan keanggunan dan keramah tamahan gadis-gadis Bangka serta kegagahan pemuda-pemuda bangka sebagai wujud penghormatan kepada para tamu yang datang berkunjung kepulau Bangka,tidak hanya idiom-idiom tersebut, sejumlah symbol-simbol adat istiadat dan tradisi yang berlaku di tengah masyarakat Bangka  pun di tampilkan dalam ragam gerak  tari sambut sepintu sedulang maupun property serta busana yang di tampilkan diantaranya persembahan sekapur sirih yang di letakkan di kedalam tepak, tabur kembang rampai dan beras kunyit yang di letakkan di dalam bokor yang di bawa oleh penari wanita yang berkostum pengantin paksian berwarna merah dan ungu serta tudung dulang dan paying lilin yang di bawa oleh penari pria yang berkostum telok balanga, sebagai wujud penghormatan masyarakat Bangka yang senantiasa akan selalu memberikan yang terbaik kepada para tamu yang datang berkunjung……

Sementara itu pencipta lagu berjudul sepintu sedulang yang merupakan lagu pengiring tari sambut sepintu sedulang Parlind Hutagalung mengaku proses penciptaan lagu tersebut  sedikit di rasakan lebih sulit di bandingkan karya cipta lagu yang lainnya yang pernah ia ciptakan, hal itu di karenakan harus terlebih dahulu menyesuaikan dengan gerak tarinya sehingga tercipta keharmonisan dan singkronisasi antara syair lagu dan gerak tarinya, namun berkat kerja keras dan ketelitian para seniman dan budayawan yang terlibat dalam proses penggarapan mahakarya tersebut, syair dan nada lagu sepintu sedulang yang di ciptakannya mampu menghadirkan suasana  sakral dan penuh ke agungan pada saat tari sambut sepintu sedulang di tampilkan....

Jika di lihat dari gerak maupun ketika mendengar tabuhan gendang dan gesekan  biola serta accordion yang mendayu namun  tegas, music pengiring tari sambut sepintu sedulang sangat dekat dengan nuansa music tradisional Bangka Belitung yakni music dambus,unsur pola gendang Bangka anak enduk yang saling bersahutan satu sama lainnya sangat terasa dalam komposisi percusinya yang terdiri dari gendang Bangka,gong,tamborin serta 2 buah kenong, hal itu juga selaras dengan langkah gerak tari sambut sepintu sedulang yang syarat dengan unsur langka gerak tari dincak dambus…..

Penata music tari sambut sepintu sedulang seorang seniman sekaligus juga abdi Negara yang kini duduk di pemerintahan sebagai kepala bagian administrasi sumber daya alam skretariat daerah kabupaten bangka Murmahudi,spdi menjelaskan dalam proses penataan baik tari maupun musiknya, unsur kedaerahan dan kearifan local yang ada di pulau Bangka memang di kedepankan,selain sebagai bentuk penghargaan kepada nenenk moyang terdahulu yang telah mewariskan mahakarya yang luar biasa, hal ini sekaligus bertujuan untuk menyampaikan pesan, nilai-nilai edukasi melalui karya seni tari tersebut, kepada siapa saja khususnya para generasi yang melihat dan menyaksikan maupun yang mempelajari, menarikan serta mementaskan tarian itu, adapun nilai edukasi yang di maksud yakni “tradisi budaya,adat istiadat merupakan cerminan dari masyarakat pemiliknya, untuk itu sewajarnya ia di tempatkan di posisi yang mulia bagi siapa saja yang merasa memilikinya”.

Hal ini sekaligus juga mengingatkan kita semua akan pesan yang di sampaikan oleh bapak pendiri bangsa Indonesia sang Proklamator Soekarno yang dengan tegas mengatakan “Bangsa Indonesia jangan sekali-sekali melupakan sejarah” karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai karya massa lalu”

Demikian pula yang di harapkan para pelaku sejarah terciptanya tari sambut sepintu sedulang baik penata tari muchtar accros, pencipta lagu parlind hutagalung dan penata music Murmahudi serta budayawan Samsi dan almarhumah Ermanila Hamid bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam mahakarya tari sambut sepintu sedulang tidak lantas di tinggalkan maupun di ubah keasliannya oleh generasi massa kini, melainkan senantiasa di pertahankan dan di jadi kan suatu kebanggaan sebagai salah satu cerminan jati diri karakteristik negeri sepintu sedulang dan negeri serumpun sebalai pada umumnya….


                           cintai negerimu kenali budayamu


                                    by.Wanda Sona Alhamd

Kamis, 19 April 2012

Dari GAPTEK ke IPTEK

Dari GAPTEK ke  IPTEK

Ini adalah pengalaman massa lalu ku….

Ini juga adalah cerita yang mungkin sebagian orang memandangnya sebuah kekonyolan….

Atau mungkin juga  ini cerita lucu….

Tapi yakinlah bahwa sesungguhnya  ini bukanlah lelucon….

ini adalah …………….”KENYATAAN” yang pernah kujalani selama hidupku hingga saat ini……

“Jariku pengen menari”

Dahulu Sebuah tekhnologi ibarat binatang buas bagiku, “di lihat takut, gak di lihat, tapi aku belum pernah melihat”. Mungkin ini dapat juga menjadi pelajaran bagi para orang tua dalam mendidik anak, mengingat ketakutan itu muncul karena aku yang saat itu masih duduk di bangku SD  telah terdoktrin dengan perkataan orang tua ku ketika pertama kali aku menyentuh yang namanya computer di kantor mama, “hey nak…!  Jangan di ganggu,jangan di sentuh barang tu, matiiiiii……beli dak tebeli genti tegenti kelak e….” ujar mama dengan logat sungailiatnya. Nah sejak itulah aku jadi takut dan berfikir, kasihan ke dua orang tuaku kalau harus menggantikan computer kantornya dengan uang pribadi jika computer itu rusak akibat ku kotak-katik. Ya manyunlah aku…..Ketakutan itu terus merongrongku hingga aku duduk di bangku SMA. Saat SMP Aku hanya bisa menatap computer sekolah dan sama sekali tidak berani menyentuhnya karena aku selalu ingat pesan mama.

Beranjak SMA, hemmmmm………..aku mulai berfikir ketika melihat teman-temanku duduk di bangku computer dan mengoperasikannya untuk menulis surat undangan acara yang mau di gelar di SMA ku saat itu. Wah….jari jemarinya begitu lentik menari-nari di atas keyboard, “waw, hebat ka cek ok, lah pacak ngetik pakai computer”, ujarku sambil sumringah, lalu temanku menjawab “biase la cek, pak kami punye computer di rumah”, akupun terdiam mendengar jawaban temanku sembari berfikir,”ya mama, kok dulu aku di larang mainin computer, coba kalau kemarin mama izinin aku main computer, pasti sekarang jariku juga sudah bisa menari-nari di atas keyboard”, ujarku dalam hati
Pulang sekolah dan tiba di rumah, aku temuin mama, ku ceritakan ke mama tentang temanku yang mahir menulis surat undangan di computer dan menanyakan kembali peristiwa silam dimana mama melarangku main computer, mama menjawab,”dak bukan cemtu, dulu tu mama takut, ken kalum pacak ape-ape tentang computer, takut rusek….kelak ka basing basing pencet lah, dari pada kite ngenti punye urang, ok alung kite beli be…”,kilah mamaku.
Hemmmmmmm….keesokan harinya…. aku sangat bahagia, mama ajak aku ke toko computer dan aku di beliin computer Pentium 3, wahhhhh……mantap ni, sejak itu aku belajar mengetik surat undangan seperti yang temanku lakukan di sekolah, sejak ada computer Pentium 3 di rumahku, setiap pulang sekolah jariku selalu menari-nari di atas keyboardnya….



“Hp Negah”

Massa SMA adalah massa dimana aku dan semua teman-teman seumurku pengen di bilang keren, gaya, gaul, tajir, pokonya yang hem hem lah………tapi…..aku hanya bisa menatap dan senyum-senyum malu, karena rata-rata temanku SMA ku lahir di lingkungan keluarga berada, mau motor mereka ada, mau Hp mereka ada, mau laptop mereka ada, mau apa juga mereka ada….

sementara aku…….tapi aku tidak lantas patah arang, meski ku tau keluarga ku saat itu dalam kondisi pas-pas an tapi mampu, ku beranikan diri minta ortu beli Heandphone, tau gak apa kata papa dan mama setelah aku cerikan bahwa teman-temanku di sekolah sudah pegang Hp dan naik motor, he…he…he…he… “HP negah e kek kawan ka,dorang Pak Mak e kayo, jangan di turut, mati men nek nurut semue e”, ujar papa ketus, tapi aku bisa menerima itu, karena itu memang salahku meminta tanpa memperhitungkan kegunaannya untuk ku saat itu.


Otak ku terus bekerja, mencari cara untuk bisa di pandang keren, gaya, tajir, gaul oleh teman-teman ku, sampai tiba suatu hari om ku yang kerja di kobatin datang dari toboali, dia punya Hp, tanpa sepengetahuannya ku bawa Hp miliknya ke sekolah, karuan deh Om ku yang gaya bicaranya sangat kental dengan logat Toboali mencari Hp miliknya sampai satu keluarga besarkupu  heboh, karena mereka mengira Hp Om ku hilang.
Sementara aku sedang menikmati  massa jayaku dengan Hp milik Om ku, tp aku tidak lantas lupa memanfaatkan kesempatan yang berharga saat aku pertama sekali pegang Hp, aku buka Hp nya, Ku pencet apapun yang mau ku buka kontennya, eeeee…….saat ku buka koleksi Foto di Hp om ku, ternyata, hem……………ya gitu deh…..
Dan sampailah aku ke rumah setelah usai sekolah, mama, papa dan om ku bertanya kepada ku, “ente ningok dak Hpei om di mija tadi pagi”?  akupun kaget, melotot, terngagah sambil berkata, “missal Hp Om ade di aku sekarang Om marah dak”? om ku menjawab “ Hp Negah e, yang penting Hp e hadei sekarang”, ujar Om ku….hi...hi...hi...hi....



Senin, 16 April 2012

Mendengar Asa Pelaku Seni Babel. Banyak Prestasi Minim Perhatian

Mendengar Asa Pelaku Seni Babel. Banyak Prestasi Minim Perhatian
Oleh Andi / Radar Bangka / Pangkalpinang Sabtu, 07 April 2012 09:35 WIB |
Mendengar Asa Pelaku Seni Babel. Banyak Prestasi Minim Perhatian
DARAH seni yang ada di tubuh Ayah dan Ibunya, Baidjuri Tarza dan Kessy Eillya, ikut mengalir ditubuhnya. Bak nafas kehidupan, seni, kini benar-benar menyatu dalam dirinya. Nahwand Sona Alhamd, begitu nama lengkap pria kelahiran Pangkalpinang, 21 November 1982 silam ini. Merupakan satu dari sekian banyak seniman yang ada di Bangka Belitung (Babel). Meski usianya masih amat muda, namun prestasi dibidang seni dan usahnya ia memperkenalkan seni Babel tak bisa diacuhkan begitu saja. 
Dibawah pepohonan yang teduh plus terpaan angin sepoi-sepoi, Wanda-begitu ia akrab disapa, dengan ramah menceritakan perjalanan karirnya hingga ia menyatu dengan seni. Menurutnya, kecintaan dan perkenalan ia dengan seni adalah tak terlepas dari kiprah orang tuanya sendiri. Dimana, saat masih duduk di bangku kelas II SD, ia diikutsertakan dengan berbagai perlombaan menyanyi. Mulai dari tingkat Kabupaten hingga ke tingkat provinsi yang ketika itu masih bagian dari Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). “Melalui dukungan sekaligus bimbingan kedua orang tua, saya mampu memperoleh hasil maksimal. Dari sekian banyak lomba menyanyi, baik lagu pop maupun lagu daerah di tingkat kabupaten maupun propinsi. Hampir seluruhnya mendapat juara pertama,” ceritanya kepada Radar Bangka (RB) beberapa waktu lalu. 
Prestasi itu terus ia raih sampai ke jenjang berikutnya. Semasa SMP kata Wanda, ia masih menekuni dunia tarik suara melalui grup band bersama teman-teman yang semuanya duduk di bangku SMA. Dari sana, ia juga berhasil meraih torehan prestasi di setiap ajang festival band lokal yang digelar dalam setiap tahun. 
Ia juga pernah menjadi juara pertama dalam ajang bintang radio dan televisi yang digelar RRI dan TVRI sebanyak dua kali tingkat provinsi. “Juara pertama Pop Singer tingkat anak-anak se-Bangka saat itu saya pegang, lalu dua kali juara pertama lomba lagu nasional dan lagu daerah tingkat Provinsi Sumsel, juara pertama Lomba Lagu Daerah Sumsel sebagai wakil dari kota Palembang pada even Festival Sriwijaya, serta dua kali juara Bintang Radio Tingkat Provinsi Babel,” ujarnya membeberkan sejumlah prestasi yang pernah ia raih. 

Pembicaraan semakin akrab ketika candaan teman yang berada disampingnya keluar. Wajar, saat perbincangan tersebut, RB tidak hanya bersama Wanda semata. Melainkan juga bersama rekan se-profesi sesama jurnalis. Wanda sendiri merupakan jurnalis yang tergabung di RRI.  "Saya juga selain menekuni dunia tarik suara, saya juga merambah ke dunia seni tari dan musik daerah," papar pria yang juga ikut tergabung di Sanggar Seni Kite ini. 
Dilanjutkannya, karena itu semua, ia juga ahli memainkan alat musik tradisional baik itu alat musik tradisional Babel maupun alat musik daerah lain. Karena itulah, melalui hasil seleksi yang di gelar  oleh Disdikbud (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan) Provinsi Sumsel, ia dan beberapa seniman Palembang terpilih menjadi Duta Seni dalam Festival Tari Nusantara di Pulau Dewata Bali sebagai pemusik. 
Dari itu, ia mendapat kepercayaan dari sejumlah seniman Palembang dan bergabung di Dewan Kesenian Sumsel. Melalui Dewan Kesenian berbagai even seni budaya tidak hanya di tingkat lokal dan nasional, namun juga internasional pernah diikutinya. “Masa itu saya tiga kali mendapat penghargaan Penata Musik Terbaik se-Babel melalui karya tari berjudul Besaoh, Tepulut, dan Aik Gambang. Lalu dua kali pentas pada even Festival Gendang Nusantara di Malaysia sebagai penata musik. Kemudian pentas pada acara Festival Zapin Nusantara di Johor Bahru, Malaysia sebagai pemusik. Juara dua pada festival Melayu Nusantara di Bengkulu sebagai penata musik. Masuk deretan 10 besar Parade Tari Daerah tingkat nasional di Jakarta sebagai penata musik dalam karya tari Berjudul “Tepulut”," beberanya sambil meneguk segelas es teh manis yang dipesannya.
Selain itu sambungnya, ia juga masuk dalam deretan 5 besar tingkat nasional, Lomba Qasidah Rebana sebagai penata musik serta mendapat kehormatan pentas memeriahkan HUT PT Timah (Persero) Tbk melalui karya tari dan musik berjudul “Eksotika Negeri Timah” yang dipentaskan oleh kurang lebih 200 penari. "Bahkan saya juga pernah pentas pada even Pasar Malam Indonesia di Belanda sebagai penata musik dalam karya tari berjudul “Pencak Kedidi,” katanya.
Pria yang bermoto Wirasa, Wiraga, Wirama dalam kesehariannya ini telah melahirkan beberapa karya musik. Diantaranya komposisi musik dengan judul “Gurak” tahun 2004 dan musik tari Besaoh, Nendai, Bebaur, Zapin Melayu yang kesemuanya diciptakan pada tahun yang sama, lalu komposisi musik dengan judul “Kite Ethnic Percuscion” serta musik tari Urang Lom di tahun 2005, lalu musik tari Tepulut tahun 2006, musik tari Tiker Purun 2007, tari dan musik kolosal berjudul Eksotika Negeri Timah juga musik tari Tanggok Sahang pada tahun 2008, musik tari Thongin 2009, musik tari Aik Gambang dan Pencak Kedidi 2010.
Wirasa, Wiraga , Wirama ini diterangkannya adalah tiga unsur dalam sebuah karya tari yang tidak dapat dipisahkan. Begitu pula dengan pembangunan seni budaya daerah, selain seniman yang harus memiliki citra rasa tinggi dalam setiap karyanya, pemerintah juga seharusnya mengorbankan jiwa dan raga terhadap seni budaya itu sendiri dengan berbaur menyatu bersama  lingkungannya, membuka diri untuk memahami apa yang sebenarnya harus di lakukan. Sehingga, tepat sasaran dan guna. Bukan bergerak sendiri berdasarkan keinginan sendiri tanpa menghiraukan apa sesungguhnya kebutuhan yang diperlukan dan harus dipenuhi.
Nah, yang lebih memahami itu tentu para pelaku seninya. Cobalah akomodir pendapat para seniman daerah. Sebab memang sudah saatnya pemerintah sebagai fasilitator melakukan itu. Terlebih, para seniman daerah Babel melalui karya-karyanya banyak yang sudah dikenal diberbagai daerah di Indonesia. "Berdayakan mereka para seniman daerah karena mereka itu adalah aset daerah,” harapnya. (**)